Nabi Ibrahim adalah Ishaq, bukan Ismail. Di sini kita bukan akan menguji adanya perselisihan pendapat itu. Muhammad Husein Haekal dalam buku "Sejarah Hidup Muhammad" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah menyebut dalam Qishash'l-Anbia'Syaikh Abd'l Wahhab an-Najjar berpendapat, bahwa yang disembelih itu adalah Ismail.
Argumentasi ini justru diambilnya dari Taurat sendiri bahwa yang disembelih itu dilukiskan sebagai anak Ibrahim satu-satunya. Pada waktu itu Ismail adalah anak satu-satunya sebelum Ishaq dilahirkan.
Setelah Siti Sarah melahirkan, maka anak Ibrahim tidak lagi tunggal, melainkan sudah ada Ismail dan Ishaq. Dengan mengambil cerita itu, menurut Haekal, seharusnya kisah penyembelihan dan penebusan itu terjadi di Palestina. (Baca juga: Raja Mesir Memaksa Menikahi Siti Sarah Akhirnya Taubat)
Akan tetapi cerita yang mengatakan bahwa penyembelihan dan penebusan itu terjadi di atas bukit Mina, maka ini tentu berlaku terhadap diri Ismail. Oleh karena di dalam Qur'an tidak disebutkan nama person korban itu, maka ahli-ahli sejarah kaum Muslimin berlain-lainan pendapat.
Tentang pengorbanan dan penebusan itu kisahnya ialah bahwa Nabi Ibrahim bermimpi, bahwasanya Tuhan memerintahkan kepadanya supaya anaknya itu dipersembahkan sebagai kurban dengan menyembelihnya. Pada suatu pagi berangkatlah ia dengan anaknya. "Bila ia sudah mencapai usia cukup untuk berusaha, ia (Ibrahim) berkata: 'O anakku, dalam tidur aku bermimpi, bahwa aku menyembelihmu. Lihatlah, bagaimanakah pendapatmu?' Ia menjawab: 'Wahai ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Jika dikehendaki Tuhan, akan kaudapati aku dalam kesabaran."
فَلَمَّاۤ اَسۡلَمَا وَتَلَّهٗ لِلۡجَبِيۡنِۚ
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). (QS As-Saffat 103)
وَنَادَيۡنٰهُ اَنۡ يّٰۤاِبۡرٰهِيۡمُۙ
Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! (QS As-Saffat 104)
Beberapa cerita melukiskan kisah ini dalam bentuk puisi yang indah sekali. Kisahnya, setelah Ibrahim bermimpi dalam tidurnya bahwa ia harus menyembelih anaknya dan memastikan bahwa itu adalah perintah Tuhan, ia berkata kepada anaknya itu:
"Anakku, bawalah tali dan parang itu, mari kita pergi ke bukit mencari kayu untuk keluarga kita."
Anak itupun menurut perintah ayahnya. Ketika itu datang setan dalam bentuk seorang laki-laki, mendatangi ibu anak itu seraya berkata: "Tahukah engkau ke mana Ibrahim membawa anakmu?"
"Ia pergi mencari kayu dari lereng bukit itu," jawab ibunya.
"Tidak," kata setan lagi, "ia pergi akan menyembelihnya."
Ibu itu menjawab lagi: "Tidak. Ia lebih sayang kepada anaknya."
"Ia mendakwakan bahwa Tuhan yang memerintahkan itu."
"Kalau itu memang perintah Tuhan biarkan dia menaati perintahNya," jawab ibu itu.
Setan itu lalu pergi dengan perasaan kecewa. Ia segera menyusul anak yang sedang mengikuti ayahnya itu. Kepada anak itupun ia berkata seperti terhadap ibunya tadi. Tapi jawabannyapun sama dengan jawaban ibunya juga.
Kemudian setan mendatangi Ibrahim dan mengatakan, bahwa mimpinya itu hanya tipu-muslihat setan supaya ia menyembelih anaknya dan akhirnya akan menyesal. Tetapi oleh Ibrahim ia ditinggalkan dan dilaknatnya. Dengan rasa jengkel Iblis itu mundur teratur, karena maksudnya tidak berhasil, baik dari Ibrahim, dari isterinya atau dari anaknya.
Kemudian itu Ibrahim menyatakan kepada anaknya tentang mimpinya itu dan minta pendapatnya. "Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan."
Lalu katanya lagi dalam ballada itu: "Ayah, kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku nanti tidak kena ayah dan akan mengurangi pahalaku. Aku tidak menjamin bahwa aku takkan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah parang itu supaya dapat sekaligus memotongku. Bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku kuatir bila ayah kelak melihat wajahku ayah akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Tuhan itu. Kalau ayah berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah."
"Anakku," kata Ibrahim, "ini adalah bantuan besar dalam melaksanakan perintah Allah."
Kemudian ia siap melaksanakan. Diikatnya kuat-kuat tangan anak itu lalu dibaringkan keningnya untuk disembelih. Tetapi kemudian ia dipanggil: "Hai Ibrahim! Engkau telah melaksanakan mimpi itu."
Anak itu kemudian ditebusnya dengan seekor domba besar yang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Lalu disembelihnya dan dibakarnya.
Demikianlah kisah penyembelihan dan penebusan itu. Ini adalah kisah penyerahan secara keseluruhan kepada kehendak Allah
Pertempuran Piramida atau disebut juga Pertempuran Embabeh, adalah pertempuran besar selama invasi Perancis ke Mesir yang terjadi pada 21 Juli 1798. Napoleon Bonaparte menyerang pasukan dan penguasa Mamluk, memusnahkan hampir seluruh pasukan Ottoman yang berlokasi di Mesir.
Saat itu Napoleon menggunakan taktik militer yang cukup baik hingga membuat kavaleri Mamluk mundur beberapa kali. Penaklukan Prancis atas Mesir tidak dipungkiri, korban tewas sekitar 300 pasukan Perancis, tetapi korban Ottoman dan Mamluk jauh lebih besar mencapai ribuan pasukan.
Napoleon menguasai Kairo setelah memenangkan pertempuran dan menciptakan pemerintahan baru di bawah pengawasannya. Pertempuran ini sebenarnya telah membuktikan, kemunduran militer dan politik Kekaisaran Ottoman sepanjang abad
Pelajaran Sejarah modern seringkali mengajarkan Kekaisaran Romawi, Kesultanan Utsmaniyah, atau Kerajaan Britania Raya sebagai beberapa kekuasaan zaman dulu yang pernah mendominasi dunia. Indonesia pun mengenal Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan yang cukup bepengaruh pada zamannya.
Tetapi, apakah kamu tahu 6 kerajaan berikut ini pernah mendominasi dunia di masa Sebelum Masehi (SM)? Kalau belum tahu, tidak masalah. Yuk, simak pelajaran singkat berikut ini!
1. Kekaisaran Maurya (322- 185 SM)
Kerajaan adidaya pertama pada zaman purba adalah Kekaisaran Maurya. Didirikan oleh Chandragupta Maurya dan Chanakya. Chandragupta Maurya naik takhta kekuasaan dan memulai kekaisarannya ketika ia menaklukkan Kekaisaran Nanda pada usia 20 tahun!
Pada saat itu, Kekaisaran Maurya membentang di bagian utara India. Pada 305 SM. Chandragupta Maurya memperluas perbatasan Maurya ke bagian barat setelah kemenangannya atas Seleukos I Nikator dan menaklukkan Kekaisaran Seleukia.
Dalam perluasan wilayah terakhir di bawah pemerintahannya, Chandragupta Maurya menarik perbatasan kekaisarannya lebih jauh ke arah selatan untuk mencakup hampir seluruh India modern hingga 300 SM.
Pada masa keemasannya, Kekaisaran Maurya memerintah 60 juta rakyat sehingga menjadikannya salah satu pemerintahan paling dominan di muka bumi saat itu.
Selain itu, berkat perluasan wilayah, Kekaisaran Maurya terbentang 5,2 juta kilometer persegi! Kekaisaran Maurya membentang dari India hingga Pakistan dan Afganistan serta dari Pegunungan Himalaya hingga Assam, sehingga bisa dibilang, Kekaisaran Maurya adalah salah satu yang terbesar juga.
"Itu luas pakai banget!"
Chanakya, salah satu pendiri dari Kekaisaran Maurya, menuliskan kitab Arthasastra yang berisi pedoman untuk tata negara hingga strategi militer. Oleh karena itu, Kekaisaran Maurya cukup teratur di bawah pemerintahan Chandragupta Maurya.
Kekaisaran Maurya dibagi menjadi empat provinsi, masing-masing dipimpin oleh seorang pangeran kerajaan yang akan memerintah sebagai wakil Kaisar.
Terdapat sebuah infrastruktur yang luas dengan layanan sipil untuk mengendalikan segala aspek masyarakat, mulai dari hubungan internasional dan perdagangan dengan kekaisaran lain hingga kebersihan penduduk setempat.
Kekaisaran Maurya juga mempertahankan salah satu pasukan terbesar pada masanya dengan lebih dari 600.000 infantri, 9.000 gajah perang, dan 30.000 kavaleri. Selain itu, Kekaisaran Maurya memiliki sebuah sistem pengintaian untuk mengumpulkan informasi mengenai musuh, dari dalam kekaisaran maupun luar kekaisaran.
Dengan menjaga stabilitas, Kekaisaran Maurya menikmati pertumbuhan ekonomi dan menciptakan sistem perpajakan yang adil. Chandragupta Maurya menciptakan mata uang tunggal di seluruh kekaisaran yang memudahkan para petani untuk menjual hasil panen mereka dengan harga yang manusiawi.
Kekaisaran Maurya juga mengembangkan sistem perdagangan internasional yang menguntungkan dengan kerajaan-kerajaan Helenistik. Ekonomi dikelola dengan sangat baik sehingga nantinya akan dibandingkan dengan Kekaisaran Romawi.
Akan tetapi, Kekaisaran Maurya harus melihat kejatuhannya yang tragis pada akhirnya.
Sejak Chandragupta Maurya tiada, takhta Maurya diturunkan kepada para penerusnya dari Bindusara ke Brihadratha. Akan tetapi, kejatuhan Kekaisaran Maurya terjadi sejak pemerintahan Dasharatha, di mana kekaisaran tersebut kehilangan banyak wilayah.
Selain itu, pembunuhan Brihadratha oleh salah satu jenderalnya, Pushyamitra Shunga, dan bentrok antara agama Hindu dan Buddhis membuat kekaisaran tersebut jatuh. Pada 185 SM, Shunga mengkudeta Kekaisaran Maurya dan mendirikan dinastinya sendiri, Kekaisaran Shunga.
2. Kerajaan Baru Mesir (1550 – 1077 SM)
Peradaban Mesir memang dianggap sebagai salah satu peradaban tertua di dunia. Namun, pada era Kerajaan Baru Mesir-lah, negara Mesir dapat melihat kejayaannya, terutama dalam hal penguasaan wilayah, terutama pada zaman kerajaan ke-18, ke-19 dan ke-20. Pada masa-masa ini juga, pemerintah-pemerintah terkemuka Mesir muncul.
Kerajaan Baru Mesir berupaya meningkatkan perbatasannya untuk menaklukkan negeri Syam dan mempertahankan kendali terhadap serangan negeri Kush.
Thutmose III memperluas pasukan sehingga memperkuat Kerajaan Mesir selama masa pemerintahannya di dinasti ke-18. Langkahnya diikuti oleh para Firaun terkenal lainnya seperti Amenhotep III dan Tutankhamun.
Masa Kerajaan Baru Mesir ditandai oleh beberapa bangunan paling mengesankan di dunia kuno, hasil dari perubahan seni dan makam Mesir. Para Firaun tidak lagi bermain dengan piramida dan memilih makam yang diukir ke dalam batu sebagai gantinya.
Kamu tahu Lembah Para Raja (وادي الملوك)? Nah, salah satu situs bersejarah warisan kebudayaan dunia UNESCO di Mesir tersebut dibangun pada zaman ini! Salah satu malam paling terkenalnya adalah kompleks pemakaman yang dibangun oleh Ramses II untuk putra-putranya, yang terbesar dari semua makam di Lembah Para Raja.
wikipedia.org
Pada puncak kerajaannya, Kerajaan Baru Mesir terbentang lebih dari 984.200 kilometer persegi dan memerintah sekitar 5 juta orang. Hingga masa kini, masa Kerajaan Baru Mesir dikenang bukan karena ukuran atau populasinya, melainkan untuk seni, makam, dan jejak sejarah yang ditinggalkannya.
Kerajaan Baru Mesir adalah salah satu kerajaan zaman dulu yang paling banyak diteliti, diakui, dan dipahami pada zaman lampau. Sebagian besar karena seberapa banyak tubuh para penguasanya yang awet karena daya tahan dan perlindungan makamnya.
Akan tetapi, dikarenakan kerusuhan, kekeringan panjang, kelaparan, banjir dari Sungai Nil, dan korupsi yang merajalela, masa kerajaan ke-19 dan 20 adalah yang paling suram sekaligus menandakan akhir dari masa Kerajaan Baru Mesir.
Dinasti ke-19 dan ke-20 mencakup para Firaun Ramses yang melakukan kampanye militer jangka panjang dan merebut kemenangan. Akan tetapi, kampanye militer tersebut sebagian besar melemahkan Kerajaan Mesir pada zaman Ramses XI, Firaun ke-10 sekaligus yang terakhir pada zaman itu.
Pada saat itu, kerajaan Mesir hampir tidak memiliki kuasa, sampai-sampai Imam Agung Dewa Amun menjadi pemerintah de facto di Mesir Hulu dan Smendes mengendalikan Mesir Hilir. Akhirnya, Smendes mendirikan kerajaan Mesir ke-21 di daerah Tanis, bahkan sebelum Ramses XI wafat pada 1077 SM.
3. Kekaisaran Makedonia (336 – 323 SM)
commons.wikipedia.org
Meskipun termasuk dalam daftar kerajaan zaman dulu paling adidaya, Kekaisaran Makedonia juga dibilang paling cepat jatuh. Hanya bertahan sekitar 13 tahun saja!
Sebelum menjadi kerajaan terbesar di dunia, Kekaisaran Makedonia sempat tunduk pada Kekaisaran Akhemeniyah.
Kejayaan Kekaisaran Makedonia dimulai saat raja Filipus II (359 - 336 SM) memperkuatnya menjadi salah satu kekuatan terbesar di benua Eropa pada masanya. Hal tersebut diraih dengan cara menaklukkan negara tetangganya, termasuk Yunani.
Kekaisaran Makedonia juga terkenal akan pemimpinnya yang legendaris sekaligus putra dari Filipus II, Aleksander III (Alexander Agung), menjadikan kekaisaran tersebut salah satu yang terkokoh di dunia.
Setelah Filipus II dibunuh pada 336 SM oleh salah satu pengawalnya, Pausanias, Aleksander Agung naik takhta menggantikan sang ayah.
wikipedia.org
Alexander Agung mendapatkan reputasinya dengan membangun pasukan terkuat di dunia dan menaklukkan tentara di tiga benua. Pasukan Aleksander Agung mampu menaklukkan Mesir dan kerajaan Akhemeniyah (yang dulu sempat menundukkan Makedonia).
Di masa keemasannya, Kekaisaran Makedonia meliputi bagian Eropa, Asia, hingga Afrika Utara. Aleksander Agung menggunakan pasukannya dan pengaruhnya yang besar untuk menyebarkan budaya dan bahasa Helenistik ke seluruh wilayahnya.
Untuk waktu yang cukup lama, sosok Aleksander Agung dipandang oleh banyak orang sebagai "Dewa" karena kemampuannya untuk menaklukkan pasukan yang jauh melebihi jumlah kerajaannya sendiri, kepribadiannya yang mengayomi, dan memerintah pasukan yang jauh lebih besar para pendahulunya.
Di Mesir, ia dianggap sebagai seorang Firaun dan "Anak Dewa Amun", sedangkan rakyatnya memandang Aleksander sebagai "Anak Dewa Zeus".
Masa kekuasaan Aleksander mungkin singkat, hanya 13 tahun. Akan tetapi, ia memberikan warisan abadi pada daerah-daerah yang ditaklukkan karena penyebaran pengaruh Yunani.
wikipedia.org
Aleksander Agung wafat pada usia yang cukup muda, 32 tahun, di Babilonia. Setelah kematiannya, ternyata Aleksander tidak memiliki pewaris takhta yang layak, sehingga jenderal-jenderalnya memecah Kekaisaran Makedonia menjadi provinsi-provinsi untuk dikuasai masing-masing.
Peperangan terus berkecamuk, hingga mengalami perang saudara. Beberapa mengakui saudara tiri Aleksander, Filipus III sebagai raja; yang lain, mengakui Aleksander IV (anak dari Aleksander Agung dan Roxana) yang masih bayi sebagai pemimpin sah.
Pada puncaknya, Kekaisaran Makedonia di bawah Aleksander Agung membentang lebih dari 5,2 juta kilometer persegi dan memerintah atas populasi yang sangat beragam.
Sebagai salah satu pemimpin kerajaan paling sukses dalam sejarah, hanya Aleksander Agung yang mampu memperkuat Kekaisaran Makedonia tanpa menghancurkan orang-orang dan budaya yang ia taklukkan. Malah, ia juga memperkenalkan kebudayaan Makedonia pada mereka.
4. Dinasti Han (206 SM - 220 M)
ancient-origins.net
Kamu tahu "Romance of the Three Kingdoms" (Kisah Tiga Negara) atau pernah bermain game "Dynasty Warriors"? Nah, masa Tiga Negara tersebut terjadi di tengah masa dinasti yang akan kita bahas selanjutnya, yaitu Dinasti Han. Hingga masa kini, rakyat Tiongkok amat susah move ondari masa Dinasti Han.
Hal tersebut dikarenakan Dinasti Han adalah masa keemasan Tiongkok. Malah hingga saat ini, etnis mayoritas di Tiongkok menyebut diri mereka "Suku Han" (Hanzu).Tulisan Mandarin? Disebut "Tulisan Han" (Hanzi). Terlihat jelas peninggalan Dinasti Han yang akan membekas hingga ke generasi selanjutnya.
Dinasti Han Barat berdiri pada 206 SM hingga 9 M oleh Liu Bang yang menyatukan seluruh Tiongkok dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Gaozu. Dinasti Han sendiri dibagi menjadi 13 wilayah: sepertiga wilayah dinasti di bagian barat dan 10 kerajaan di dua pertiga wilayah lainnya.
Agar tidak terjadi perang saudara, Liu Bang mencoba menenangkan beberapa jenderalnya dengan menjadikan mereka penguasa di wilayah-wilayah tersebut. Sepanjang sejarah Dinasti Han, mereka terus berseteru dengan Xiongnu, suku nomaden di utara.
Wilayah Dinasti Han meluas ke sebagian besar wilayah Xiongnu di utara dan ke selatan hingga Vietnam dan Korea modern.
Untuk membiayai kampanye militer, Dinasti Han di bawah pemerintahan Kaisar Wu menciptakan beberapa monopoli pemerintah untuk menarik uang dari rakyat. Arak, garam, koin, hingga besi, semuanya merupakan monopoli di bawah pemerintah. Jalur Sutra juga diciptakan pada masa Dinasti Han dan mengubah masa depan Tiongkok.
Pendidikan dan kepercayaan Konfusianisme amat penting bagi Han dan banyak karya filosofis penting keluar dari periode ini. Kamus, biografi, dan sejarah ditulis untuk mendefinisikan bagaimana sejarah Tiongkok akan ditulis untuk masa-masa setelah Dinasti Han.
Selain itu, dari segi hukum, sebuah sistem hukum dan tata ketertiban bahkan memungkinkan kaum perempuan untuk menuntut ganti rugi atas laki-laki atas kejahatan. Tetap mengatasnamakan kemanusiaan, Dinasti Han memilih bentuk hukuman yang tidak brutal.
Akan tetapi, mulai dari Pemberontakan Serban Kuning hingga pada 220 M, Cao Pi, raja Wei, merebut takhta Dinasti Han dari Kaisar Xian dan menjadikan dirinya Kaisar Cao Wei maka Dinasti Han jatuh sepenuhnya.
Berkat sensus tertua yang pernah ada dalam sejarah, diketahui bahwa populasi dinasti Han adalah sebanyak 57.641.400 pada puncak kekuasaannya. Dinasti Han terbentang hingga 6,5 juta kilometer persegi atau lebih dari 4 persen dari total luas daratan di dunia!
Oleh karena itu, tidak heran jika hingga saat ini kebudayaan Tiongkok tidak bisa lepas dari pengaruh Dinasti Han.
5. Kekaisaran Akhemeniyah/Persia Pertama (550 - 330 SM)
nationalgeographic.com
Sejak pemerintahan Raja Koresh Agung, Kekaisaran Akhemeniyah menjadi salah satu kekuatan terbesar Persia di Asia Selatan dan Barat Daya.
Pada 550 SM, Raja Koresh menaklukkan Media untuk menciptakan Kekaisaran Persia Pertama. Raja Koresh sendiri adalah sosok yang lihai dalam hal taktik dan politik dan hal tersebut memungkinkannya untuk menggabungkan daerah Lydia dan Kekaisaran Neo-Babilonia ke dalam Kekaisaran Akhemeniyah.
Kemudian, Kekaisaran Akhemeniyah memperluas wilayahnya ke Mesir dengan mengalahkan kerajaan Mesir ke-26.
Selain taktik dan politik, Raja Koresh sangat bijaksana dalam hal tata negara. Ia memilih untuk tidak memaksa rakyatnya mematuhi satu budaya. Malah, ia mengizinkan rakyatnya untuk memiliki hak dan tanggung jawab yang sama tidak peduli etnis atau budaya mereka, selama mereka mematuhi hukum dan membayar upeti.
Meskipun ini mungkin berhasil selama beberapa periode dan menjamin kesetiaan rakyat Babilonia, kebijakan tersebut tidak banyak membantu dalam memadamkan pemberontakan atau menjaga ketertiban.
Bisa dibilang, pasukan Akhemeniyah menghabiskan lebih banyak waktu untuk menjaga tata tertib di dalam wilayah kekaisaran daripada melindungi perbatasan kekaisaran.
warhistoryonline.com
Pada masanya, Kekaisaran Persia Pertama melihat banyak kemajuan. Salah satunya adalah mendirikan kota Persepolis yang berfungsi sebagai ibukota kekaisaran dan akan menjadi rumah bagi raja-raja Persia berikutnya.
Kekaisaran Akhemeniyah dipenuhi dengan kota-kota besar, kuil, makam, dan istana yang menampilkan inspirasi dari berbagai budaya, cerminan dari kekaisaran itu sendiri.
Sayangnya, Kekaisaran Akhemeniyah berakhir pada 330 SM, sebagian besar dikarenakan upeti yang dikenakan pada bangsa dan warga negara jajahannya. Bayangkan saja, setiap negeri diharapkan menyediakan barang, jasa, dan upeti hingga Rp2,7 triliun per tahun!
Upeti tersebut begitu besar sehingga menyebabkan seluruh Kekaisaran Akhemeniyah mengalami krisis ekonomi.
Selain itu, pemerintah Kekaisaran Makedonia, Aleksander Agung, mengalahkan Akhemeniyah di tiga peperangan utama: Granicus, Issus, dan Gaugamela. Pada 330 SM, Persia membuat pertahanan terakhirnya melawan Aleksander di Gerbang Persia.
Ketika Aleksander Agung tiba, ia dan pasukannya dengan mudah menaklukkan tentara Akhemeniyah di Susa dan membagikan harta Persia di Persepolis untuk negeri-negeri miskin agar dapat membangun kembali kota-kotanya.
Dikarenakan Aleksander mempertahankan sebagian besar struktur pemerintahan Persia Pertama, ia dianggap oleh sebagian orang sebagai pemimpin Achaemenid yang terakhir.
6. Kekaisaran Seleukia (312 - 63 SM)
historyofmacedonia.org
Kekaisaran Seleukia didirikan oleh Seleukos I Nicator setelah memecah kekaisaran Alexander Agung.
Untuk bagiannya, Seleukos mengambil Babilonia dan akhirnya memperluas kerajaannya sendiri untuk memasukkan banyak wilayah Aleksander Agung di dekat wilayah timur.
Kekaisaran Seleukia mencakup Persia, Levant, Anatolia, dan Mesopotamia. Seleukos bahkan pergi ke India untuk membuat kesepakatan dengan Kekaisaran Maurya untuk menukarkan menyerahkan wilayah timur Seleukia dan putrinya seharga 500 gajah perang. Gajah perang tersebut membantu Seleukos mengendalikan Anatolia dan sebagian Suriah.
cointalk.com
Setelah Seleukos dibunuh, putranya, Antiokhus I Soter, dibebankan dengan tanggung jawab mempertahankan Kekaisaran Seleukia yang sangat besar. Tetapi, Antiokhus masih mampu memperluas Kekaisaran Seleukia dan menyelesaikan visi Aleksander Agung di Eropa.
Kekaisaran Seleukia terbukti sulit dikendalikan oleh para penguasa setelah Seleukos sampai Antiokhus III. Ia yang berhasil memperluas Kekaisaran Seleukia sampai ke India dan Yunani. Hal tersebut berjalan lancar sampai Antiokhus dihentikan oleh Kekaisaran Romawi.
Kekaisaran Seleukia begitu luas sehingga selalu sulit untuk dikelola dan tidak stabil. Hal tersebut karena kekaisaran mengikuti contoh Alexander Agung dan menciptakan kota-kota Yunani di seluruh kekaisaran yang memungkinkan kolonisasi dari daratan Yunani.
Untuk memperkuat perdagangan, banyak kota dipaksa mengikuti agama, politik, dan praktik Helenistik agar mempermudah perdagangan.
Beberapa setuju dengan model Helenistik, sementara yang lain seperti orang Yahudi yang kekeh dengan budaya dan agamanya memberontak dan mendapatkan kemerdekaan mereka dari Kekaisaran Seleukia.
wikipedia.org
Oleh karena ukurannya dan sifatnya yang tidak stabil, maka Kekaisaran Seleukia berakhir ambyar. Hanya sedikit penguasa kekaisaran Seleukia mampu menjaga ketertiban atas kekaisaran yang begitu luas dengan populasi yang begitu beragam.
Pengaruh Kekaisaran Seleukia menurun drastis setelah takluk pada Kekaisaran Romawi dan ganti rugi besar yang harus dibayar.
Antiokhus IV Epifanes mencoba memperluas Kekaisaran Seleukia tetapi ia menghadapi dua masalah: Parthia dan Romawi yang juga ingin memperluas dan Pemberontakan Makabe, yaitu pemberontakan kaum Yahudi di wilayahnya.
Belum lagi, keturunan Antiokhus IV saling menggulingkan dan tidak terbukti kompeten dalam mengurus Kekaisaran Seleukia.
Dari pengaruh yang besar, Kekaisaran Seleukia menjelma menjadi sebuah daerah yang dianggap tidak penting oleh para negeri tetangganya. Akhirnya di bawah kendali Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Seleukia terpecah oleh perang saudara antara Antiokhus XIII Asiatikus dan Filipus II Filoromaeus dan runtuh pada 63 SM.
Sekian, itulah enam kerajaan adidaya yang hadir pada masa Sebelum Masehi. Beberapa kerajaan tersebut runtuh dikarenakan pihak-pihak haus kekuasaan, tata negara yang tidak baik, dan perang saudara yang tak terelakkan
Ketika kita memikirkan anggota kerajaan, pasti yang terlintas di pikiran adalah putri-putri cantik dan para pangeran yang menawan. Sejarah mengungkapkan bahwa penguasa kehidupan nyata kadang-kadang lebih mirip dengan penjahat dalam buku cerita: para penyihir gila, orang aneh, dan bahkan sekumpulan keluarga pembunuh.
Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa, meskipun memiliki keistimewaan, menjadi anggota kerajaan itu rumit. Akses ke kekayaan besar dapat merusak mental. Berikut adalah daftar bangsawan paling aneh dan keluarga kerajaan paling aneh sepanjang sejarah, apa yang membuat mereka seperti itu, dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi negara yang mereka kuasai.
1. Elagabalus
dailymail.co.uk
Gelar kerajaan: Kaisar Roma
Kegilaan: Elagabalus adalah seorang hedonis yang senang menonton orang menderita.
Elagabalus, yang naik takhta pada tahun 218 M, adalah seorang Kaisar Romawi yang dikenal karena perilakunya selalu ingin menjadi penguasa paling kejam sepanjang masa.
Berikut adalah daftar beberapa kegiatan kerajaan paling aneh Elagabalus:
Dia merantai wanita telanjang ke kereta, seperti kuda, dan mencambuk mereka saat mereka menariknya.
Dia merilis ular beracun ke penonton permainan gladiator dan menyaksikan orang banyak panik dan mati karena gigitan beracun.
Dia mengikat tamu makan malam ke roda air untuk menyaksikan mereka perlahan tenggelam.
Dia melemparkan emas dan perak dari balkon menara dan menikmati rakyat jelata yang bertengkar dan sekarat karena uang.
Dia melepaskan singa dan macan tutul saat pesta.
Dia mengisi posisi dalam pemerintahan berdasarkan ukuran penis pria.
Ketika penasihat utamanya memperingatkannya bahwa dia harus menjalani kehidupan yang lebih hemat dan bijaksana demi kelangsungan kerajaan, dia menikam penasihat itu sampai mati.
2. Nero
newsoboz.org
Gelar Kerajaan: Kaisar Roma
Kegilaan: Seorang narsisis dan sadis, dia membunuh ibunya dan membiarkan Roma terbakar habis.
Ketika membicarakan Nero, jelas dia mendapatkan kemampuan berpolitiknya yang hebat dari ibunya. Ibu Nero, Agrippina, mengatur naiknya Nero ke tahta pada tahun 54 M dengan menikahi pamannya, Claudius, dan meyakinkannya untuk mengangkat Nero sebagai Kaisar alih-alih putranya sendiri, sebelum meracuni Claudius hingga mati. Ketika Nero berkuasa, ia mengambil pelajaran dari buku pedoman ibunya dan mulai menjatuhkan semua orang yang mengancam atau bahkan mengganggunya, termasuk ibunya. Dia juga membunuh istrinya sendiri, Octavia, ketika dihalangi jalannya.
Meskipun membawa beberapa bentuk sosial dan politik yang positif, hedonisme Nero terus menggerogotinya. Dia memiliki banyak istri dan kekasih, menghabiskan banyak uang untuk pemenuhan hasrat seksual pribadi, dan membunuh siapa saja yang berani mengkritik cara hidupnya.
Pada 64 M, kebakaran hebat menghantam Roma, meluluhlantakkan 75 persen kota. Banyak orang Romawi berpendapat bahwa Nero sendiri yang menyalakan api untuk memberi jalan bagi ia agar bisa membuat kastil baru. Bahkan jika dia tidak melakukannya sekalipun, dia juga tidak akan melakukan apa pun untuk menghentikannya, dan mungkin akan menyalahkan orang Kristen dan memulai periode penindasan dan penyiksaan orang Kristen di Roma.
3. Joanna of Castille
en.wikipedia.org/Charles_de_Steuben
Gelar Kerajaan: Queen of Castile and Aragon in Spain
Kegilaan: Obsesinya terhadap suaminya mendorongnya untuk menyimpan mayat suaminya agar tetap bersamanya setiap saat.
Joanna dari Castile adalah putri Ferdinand dan Isabella, yang terkenal di Amerika sebagai bangsawan Spanyol yang mengirim Christopher Columbus dalam pelayaran ke baratnya. Joanna menikah dengan Philip I dari Burgundy, putra Kaisar Romawi Suci. Dia sangat berbakti kepada suaminya, dan memberinya enam anak, yang semuanya menjadi kaisar dan ratu.
Joanna meraih gelarnya "Juana La Loca" karena obsesinya yang berlebihan terhadap suaminya. Setelah kematian mendadak suaminya pada tahun 1506, Joanna menolak untuk dipisahkan dari mayat Philip yang telah dibalsam. Dia menyimpannya di kamarnya dan bahkan membawanya ke mana-mana. Terlepas dari tahtanya sebagai Ratu Castile dan Aragon, keluarganya tidak pernah melihatnya sebagai orang yang tepat untuk memerintah, dan putranya Charles akhirnya mengambil peran sebagai pemimpin negara yang sebenarnya.
4. Mustafa I
alchetron.com
Gelar Kerajaan: Sultan of the Ottoman Empire
Kegilaan: Satu-satunya masa di mana ia tidak dikekang dalam penjara adalah saat ia menjadi raja.
Mustafa I memiliki masa kecil yang tidak biasa. Ketika saudaranya Ahmed I naik takhta Kekaisaran Ottoman pada 1603, tradisi Ottoman menyatakan bahwa ia harus mengeksekusi saudaranya untuk mencegahnya dari perebutan takhta. Namun, Ahmed yang berusia 13 tahun menyelamatkan nyawa saudara lelakinya yang berusia 12 tahun, dan malah menahannya di penjara tanpa jendela.
Mustafa dipenjara selama 14 tahun, yang berdampak buruk pada kesehatan mentalnya. Kematian kakaknya menandai kenaikan Mustafa dari penjara ke tahta, tetapi kegilaan sudah telanjur mengganggu kekuasaannya. Setelah waktu yang singkat di atas takhta, ia digulingkan, digantikan oleh keponakannya Osman, dan dikirim kembali ke penjara.
Setelah kematian Osman, para bangsawan mengembalikan Mustafa ke tampuk kekuasaan. Ketika dia menolak untuk meninggalkan penjaranya, mereka menariknya keluar dan mengangkatnya di atas takhta. Mustafa meyakinkan dirinya sendiri bahwa Osman sebenarnya masih hidup dan menghabiskan berjam-jam di istana untuk mencari keponakannya, memohon Osman untuk mengambil takhta raja darinya. Akhirnya, dia menurunkan takhta ke keponakannya yang lain, Murad, dan Mustafa I kembali ke penjara, di mana dia akhirnya meninggal pada usia 47 tahun.
5. Catherine The Great
history.com
Gelar Kerajaan: Empress of Russia
Kegilaan: Orientasi seksual Catherine menyebabkan desas-desus bahwa ia sebenarnya seorang bestiality (tertarik secara seksual dengan binatang).
Catherine The Great adalah sesuatu yang anomali dalam daftar ini, karena dia bukan penguasa yang buruk pemerintahannya. Dia mencanangkan reformasi besar-besaran untuk Rusia dan membuat penguasa perempuan terlihat kuat dan mampu di saat laki-laki kebanyakan berkuasa. Sementara kehidupan profesionalnya sebagai penguasa Rusia berkembang, kehidupan pribadinya sedikit lebih kontroversial.
Catherine terlahir sebagai Sophie von Anhalt-Zerbst di Jerman dan menikahi Peter III pada tahun 1745. Banyak sejarawan percaya bahwa tidak satu pun dari keempat anaknya bukan anak kandung Peter III. Setelah Peter III menguasai Rusia dan membuat keputusan untuk mengakhiri perang Rusia dengan Prusia, Catherine berkonspirasi dengan para bangsawan untuk menggulingkan suaminya. Dia dibunuh oleh saudara lelaki dari kekasih barunya, Gregory Orlov.
Sejak saat itu, Catherine memerintah Rusia, mengambil dan bergonta-ganti pasangan sesuka hati. Dia menghadiahkan satu kekasihnya dengan seribu budak, dan menjadikan yang lain Raja Polandia, hanya untuk mengobarkan perang padanya ketika dia tidak terbukti menjadi boneka yang dia inginkan. Banyak sejarawan percaya kisah kematiannya yang saat berhubungan seks dengan kuda adalah upaya musuh-musuhnya untuk mendiskreditkannya.
Menjadi anggota kerajaan mungkin tak seenak dan tak semudah kelihatannya karena akan selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kekuasaan.
IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.